Artikel-01


 

SUARA  PEMBARUAN

Memperjuangkan Harapan Rakyat Berdasarkan Pancasila


SABETH MUKHSIN

SUDAH NASIB

 

SABETH Mukhsin, 62, mengaku tidak pernah lelah mengembangkan olahraga Karate yang telah menyita sebagian besar waktunya sejak usia muda. “Mungkin sudah menjadi nasib saya untuk mengembangkan Karate, khususnya Karate Tradisional,” kata salah satu pendiri Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) ini.

 

Pria asal Nusa Tenggara Barat ini menggeluti Karate sejak 1960-an ketika kuliah di Jepang. Dia belajar langsung pada Masatoshi Nakayama yang disebut-sebut sebagai bapak Karate Modern.

 

Dalam upayanya mengembangkan olahraga Karate Tradisional itu, berbagai kendala dia hadapi. Termasuk di antaranya pengakuan dari induk semua organisasi olahraga di Indonesia, KONI, yang baru sebatas de facto terhadap Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) yang dia pimpin.

 

“Saya berterima kasih pada pengurus KONI meskipun pengakuan mereka baru sebatas itu. Bagi saya yang terpenting bagaimana karate tradisional berkembang di masyarakat,” kata Sabeth yang juga Direktur International Traditional Karate Federation.

 

Dalam kesehariannya, Sabeth terlibat langsung membuat konsep pengembangan Karate Tradisional. Baik konsep pengembangan organisasinya maupun Standardisasi Karate. Dia juga menyusun dan menerbitkan buku Karate Tradisional yang dapat dikatakan sebagai standar baku Karate Tradisional. Buku ini merupakan terjemahan dan olahan dari buku Best Karate karangan Masatoshi Nakayama.

 

Kantornya di Jalan Cibulan 7 Kebayoran Baru, Jakarta, penuh dengan dokumen sejarah Karate di Indonesia dan dunia. Ia juga tahan berjam-jam memaparkan sejarah Karate sampai ke detail-detailnya.

 

Segala upayanya itu bertujuan agar orang memahami Karate secara benar, khususnya setelah seni beladiri Karate dikembangkan sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan. Kompetisi yang menekankan pada kemenangan, menurut dia, membuat pengembangan Karate akhirnya “melenceng” dari pakemnya. Itu sebabnya ia ingin orang memahami hakekat Karate yang dia sebut sebagai kime atau penentu.

 

Teknik dasar Karate, yakni tsuki (pukulan), uchi (sentakan), ate (hentakan), keri (tandangan), uke (tangkisan), tidak sempurna kalau dilakukan tanpa kime, kata Sabeth yang telah mencapai tingkatan Dan VI ini. Hal itu menjadi perhatian utama dalam karate tradisional yang dia kembangkan. (A-11)

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s