Artikel-03


SUARA  PEMBARUAN

Memperjuangkan Harapan Rakyat Berdasarkan Pancasila


Kamis, 12 Maret 2004

KARATE TRADISIONAL AKAN TERUS DIKEMBANGKAN

 

JAKARTA – Salah satu tokoh Karate nasional, Sabeth Mukshin, menegaskan akan terus mengembangkan Karate Tradisional setelah cabang olahraga ini mendapat pengakuan secara de facto dari Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI) Pusat. Tekad itu dia sampaikan kepada Pembaruan di Jakarta, Kamis (11/3).

 

Menurut dia, pengembangan karate tradisional diwadahi oleh Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) yang dia pimpin. Organisasi ini telah melebarkan sayapnya di 30 provinsi di Indonesia. Tentang jumlah anggotanya, Sabeth yang Karateka Dan VI itu dengan nada merendah mengatakan sekitar 5.000-an.

 

Dia jelaskan lebih jauh bahwa karate tradisional bukanlah cabang baru dari Karate. Karate Tradisional telah dikembangkan di Indonesia sekitar 1960-an. “Karate Tradisional agak berbeda dengan Karate Umum,” kata Sabeth yang murid langsung Masatoshi Nakayama yang disebut-sebut sebagai Bapak Karate Modern.

 

Tentang perbedaan dengan Karate Umum, dia mencontohkan hanya pada teknik memukul dalam kumite. Dalam Karate Umum, seorang Karateka setelah melancarkan pukulan tangannya langsung ditarik. Sementara dalam Karate Tradisional, setelah pukulan dilancarkan tangan tidak langsung ditarik. “Dengan demikian wasit atau juri dapat melihat dengan jelas apakah suatu pukulan dilancarkan dengan teknik yang baik atau tidak. Masih banyak perbedaan yang lain antara Karate Tradisional dengan yang umum,” kata dia.

 

Demikian pula dalam urusan organisasi yang menaungi, FKTI tidak berada di bawah Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI). FKTI berdiri sendiri dan berafiliasi ke International Traditional Karate Federation atau Federasi Karate Tradisional Internasional (ITKF). “Kami sudah menyelenggarakan kejuaraan dunia dan dalam waktu dekat akan digelar kejuaraan dunia Karate Tradisional yang ke-12,” tutur Sabeth yang juga salah satu pendiri Institut Karate-Do Indonesia (INKAI).

 

Dia sebutkan pula bahwa FKTI sudah didaftarkan pada Direktorat Olahraga Masyarakat, Direktoran Jenderal Olahraga Depdiknas. Tentang hubungan FKTI dengan FORKI, Sabeth menyatakan dua organisasi ini dapat hidup berdampingan.

“Kami mengembangkan Karate Tradisional karena kami concern pada upaya pemurnian dan Stadarisasi Karate,” kata Sabeth.

 

Dia siap bekerja sama dengan siapa saja untuk mengembangkan Karate Tradisional di sekolah-sekolah atau di komunitas-komunitas masyarakat. FKTI telah menyusun kurikulum dan pola dasar pembinaan untuk memudahkan pengajaran olahraga ini. (A-11)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s